Rabu, Oktober 21, 2009

Tutor Sebaya Membantu Mengatasi Masalah



Pagi itu, dengan penuh semangat aku meninggalkan rumah menuju madrasah. Sepanjang perjalanan, aku membayangkan reaksi dan wajah-wajah ceria murid-muridku, setiap saat aku berdiri di depan pintu kelas dan mengucapkan salam. Tak terasa, 20 menit berlalu, pintu gerbang madrasah sudah di depan mata. Sambil menunggu bel tanda masuk berbunyi, kusiapkan semua perangkat mengajarku, jangan sampai ada yang tertinggal. Untuk memastikan di kelas mana aku akan mengajar, kulihat kembali jadwal mengajarku.

Tepat pukul 06.45, bel tanda masuk berbunyi. Segera aku melangkah menuju kelas VIIB dengan tak lupa membawa semua perangkat dan media pembelajaran yang telah aku siapkan. Dari kejauhan, kulihat murid-murid kelas VIII B sudah berbaris rapi menunggu kedatangannku, langkahku semakin kupercepat, agar segera tiba di depan kelas VIIIB. Selanjutnya, aku berdiri di depan pintu dan satu-persatu murid-muridku menyalamiku dan kemudian menempati tempat duduk masing-masing. Setelah kuucapkan salam, dengan khidmat mereka mengawali kegiatan belajar hari itu dengan berdoa.

Seperti biasa, untuk membangkitkan semangat murid-murid dalam belajar matematika, kuteriakkan yel-yel “Matematika”. Dengan suara lantang dan penuh semangat, murid-muridku menjawab, “Aku pasti bisa, yes!”. Dalam hati aku berkata dan mengamini, semoga kita bisa.

Selanjutnya aku jalankan skenario sesuai dengan RPP yang telah kubuat. Kusampaikan juga aturan permainan hari itu. Dari 48 orang, ditentukan 8 orang siswa yang akan berperan sebagai tutor, berdasarkan hasil tes pada pertemuan sebelumnya. Siswa yang lain, yaitu 40 siswa, dibagi menjadi 8 kelompok dengan anggota 5 orang. Kemudian kubagikan 40 kartu kepada mereka yang masing-masing bergambar segitiga sama kaki, segitiga sama sisi, persegi panjang, persegi, jajar genjang, belah ketupat, layang-layang dan trapezium. Kartu yang sama, juga aku bagikan kepada 8 orang tutor. Selanjutnya, siswa yang mendapat kartu bergambar sama, duduk dalam satu kelompok kerja.

Lembar kerja siswa yang berisikan soal-soal tentang PEMFAKTORAN kubagikan pada semua siswa. Murid-murid bekerja dalam kelompok dengan bantuan teman mereka sebagai tutor. Aku berjalan berkeliling, mengamati aktivitas mereka. Kulihat beberapa murid yang mendapatkan nilai rendah pada tes tentang pemfaktoran, tampak antusias bertanya kepada tutornya. Dengan bahasa mereka sendiri, para tutor sebaya ini menjelaskan pada teman-temannya. Sesekali mereka tampak tersenyum bahagia setelah mendapatkan penjelasan dari tutornya. Melihat reaksi mereka, akupun tersenyum dan berkata dalam hati, “Mungkin bahasa teman sebaya lebih dimengerti oleh siswa, daripada bahasa orang dewasa”. Dan yang membuatku lebih bahagia lagi, beberap murid yang biasanya pasif saja dalam kegiatan pembelajaran, terlihat lebih aktif dan terlibat dalam diskusi dengan teman-temannya. Mungkin mereka merasa lebih nyaman dan bebas bertanya pada teman mereka sendiri.

Ternyata tutor sebaya-tutor sebaya ini tidak bekerja sendirian, dia juga dibantu oleh teman-teman dalam satu kelompoknya yang sudah tuntas pada tes sebelumnya. Dengan demikian terjalin kerjasama dan komunikasi yang baik antar teman dalam satu kelompok. Meskipun demikian, masih kulihat 1 – 2 orang tutor masih tampak canggung dalam menjalankan tugasnya. Kurasa ini adalah sesuatu yang wajar, maklumlah ini hal pertama bagi mereka. Tapi untuk siswa yang sudah terbiasa dengan kegiatan kepemimpinan, dengan penuh rasa percaya diri mereka menjalankan tugasnya dengan baik. Sesekali tutor-tutor ini menghampiriku untuk bertanya berkaitan dengan soal yang harus diselesaikan dalam kelompok.

Lima puluh menit berlalu, kegiatan tutorial berakhir, aku persilahkan murid-murid kembali ke bangku mereka masing-masing. Lembar soal kembali kubagikan kepada semua siswa. Kemudian siswa mengerjakan soal-soal itu secara individu dalam waktu 25 menit saja. Harapanku semoga hasil tes hari itu lebih baik dari hasil tes sebelumnya, karena kulihat wajah sumringah murid-muridku saat mengerjakan soal tes. Setelah tes berakhir, kubagikan lagi secarik kertas kepada setiap siswa untuk menuliskan refleksi tentang tanggapan dan perasaan mereka setelah mengikuti kegiatan pembelajaran hari itu.

Belum tuntas semua siswa menuliskan refleksinya, bel tanda ganti pelajaran jam ke 3 berbunyi. Kutunggu beberapa saat sampai semuanya tuntas. Ini artinya, untuk kegiatan yang sama, butuh pengaturan waktu yang lebih baik, agar kegiatan berakhir tepat pada tanda jam ganti pelajaran sehingga tidak mengganggu waktu pelajaran lainnya.

Sebelum meninggalkan kelas, kuteriakkan yel-yel “Matematika”. Sekali lagi, dengan suara lantang dan penuh semangat, murid-muridku menjawab, “Aku pasti bisa, yes!”. Kemudian baru kuucapkan salam.

Setelah aku koreksi hasil pekerjaan murid-muridku, ternyata sesuai dengan harapanku sebelumnya. Sebanyak 83% siswa dinyatakan tuntas, jauh lebih dari sebelumnya, yang hanya tuntas 42%. Meskipun masih terdapat 17% siswa yang belum tuntas, tetapi nilai tes mereka mengalami peningkatan lebih dari 100% dibanding pada tes sebelumnya. Dan yang lebih membuatku bahagia, murid-muridku memberikan tanggapan yang positif terhadap kegiatan yang baru saja mereka lakukan. Karena mereka merasa lebih bebas untuk bertanya pada tutornya tanpa meras sungkan.

Hari itu hatiku benar-benar bahagia, aku merasa apa yang sudah aku lakukan sesuai dengan rencan. Harapanku, semoga kegiatan pembelajaran semacam ini, dapat aku lakukan lagi di waktu-waktu yang akan datang, dengan rencana dan pengaturan yang lebih baik lagi sehingga hasilnya lebih baik lagi.